Jakarta – Diskusi publik bertema “Ruang Digitalisasi Anak Aman dan Sehat” yang digelar Komisi I DPR RI bersama Komdigi, Jumat (29/8/2025), menghadirkan strategi konkret dalam melawan kemiskinan struktural melalui program Sekolah Rakyat. Acara ini dihadiri lebih dari 250 peserta via Zoom.
Dalam paparannya, Habib Idrus Salim Aljufri, Lc., M.B.A., menekankan bahwa kesenjangan pendidikan menjadi akar utama kemiskinan. “Kita tidak bisa membiarkan anak-anak miskin terus terjebak dalam lingkaran putus sekolah. Sekolah Rakyat adalah strategi nasional untuk mengangkat mereka, bukan sekadar wacana, tetapi aksi nyata negara,” ujarnya.
Usman Kansong, Seorang Pakar Komunikasi, memberikan penjelasan teknis. Menurutnya, program ini berbasis asrama dengan fasilitas penuh dari negara. Siswa tidak hanya belajar akademik, tetapi juga dibekali keterampilan digital, coding, literasi teknologi, serta penguatan karakter. Ia menambahkan, “Target pembangunan adalah 200 lokasi di seluruh Indonesia. Hingga Agustus 2025, sudah ada 198 titik teridentifikasi, dengan 45 lokasi siap perencanaan teknis. Ini bukti program berjalan serius.”
Sri Budi Eko Wardani, Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia, memperluas perspektif. Ia mengingatkan bahwa Sekolah Rakyat tidak boleh hanya dilihat dari sisi ekonomi. “Program ini juga harus konsisten dalam jangka panjang agar bisa menjadi instrumen perubahan sosial dan politik. Sekolah Rakyat dapat menjadi sarana pendidikan politik yang melatih kesadaran kritis siswa sejak dini,” jelasnya.
Peserta juga aktif memberi masukan. Aisyah Fitri mempertanyakan apakah Sekolah Rakyat benar-benar bisa memutus rantai kemiskinan. Sri Budi menjawab, efektivitas program akan tercapai jika ada dukungan ekosistem: akses lapangan kerja, pemberdayaan keluarga, serta dukungan kebijakan lanjutan. Robby Azhar menyoroti sistem seleksi siswa, yang dijelaskan Usman berbasis verifikasi ekonomi, bukan semata prestasi akademik.
Menutup diskusi, Habib Idrus mengingatkan pentingnya keberlanjutan. “Sekolah Rakyat bukan proyek populis sesaat, melainkan investasi jangka panjang. Kita sedang menanam pohon masa depan bangsa, dan hasilnya akan kita nikmati bersama di Indonesia Emas 2045,” tandasnya.