Selain atasi kemiskinan, Sekolah Rakyat dipandang mampu mencetak warga negara kritis dan inklusif
Bekasi – Komdigi bersama Komisi I DPR RI menggelar webinar “Ruang Digitalisasi Anak Aman dan Sehat” pada Jumat (29/8/2025) dengan lebih dari 250 partisipan. Diskusi ini menyoroti gagasan Sekolah Rakyat yang tidak hanya dipandang sebagai solusi pendidikan gratis, tetapi juga sebagai wadah pembentukan kesadaran politik generasi muda.
Habib Idrus Salim Aljufri, Lc., M.B.A., membuka diskusi dengan menekankan pentingnya pendidikan berkarakter. “Sekolah Rakyat harus menjadi ruang tumbuhnya generasi yang cerdas, berdaya, dan berkarakter nasionalis. Inilah cara negara memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi,” ujarnya.
Usman Kansong, seorang Pakar Komunikasi kemudian memaparkan aspek kebijakan. Menurutnya, Sekolah Rakyat akan menampung ribuan anak miskin ekstrem dengan model boarding school, kurikulum nasional, serta fasilitas penuh dari negara. “Konsep ini tidak hanya menghapus hambatan biaya, tetapi juga membangun kemandirian anak melalui pendidikan berasrama,” jelasnya.
Sementara itu, Sri Budi Eko Wardani, Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia menghadirkan perspektif sosial-politik. Ia menilai Sekolah Rakyat dapat berperan sebagai laboratorium demokrasi. “Dengan diskusi, debat, dan kurikulum inklusif, anak-anak dapat belajar menjadi warga negara kritis, sadar hak-hak mereka, dan siap berpartisipasi dalam demokrasi,” terangnya.
Peserta memberikan catatan kritis. Ghiyats mengkhawatirkan stigma sosial yang mungkin muncul. Narasumber menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukanlah pemisahan, melainkan bentuk keberpihakan negara terhadap mereka yang paling membutuhkan. Aisyah mempertanyakan efektivitas memutus rantai kemiskinan, yang dijawab Sri Budi dengan penekanan pada keterhubungan dengan program lain seperti pemberdayaan ekonomi dan akses lapangan kerja.
Di akhir acara, Habib Idrus menekankan konsistensi politik sebagai kunci. “Sekolah Rakyat harus kita kawal agar bukan sekadar program populis. Ia harus berlanjut menjadi sistem pendidikan yang menanamkan kecerdasan intelektual sekaligus kesadaran politik, agar anak-anak kita tumbuh sebagai generasi emas yang berdaya dan berdaulat,” pungkasnya.