JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini menjadi perhatian sejumlah pihak. Namun, Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Habib Idrus Al-Jufri, menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat.
Menurut Habib Idrus, berbagai indikator ekonomi makro menunjukkan kondisi perekonomian nasional masih berada pada jalur yang aman meskipun pasar keuangan tengah menghadapi tekanan.
“Kalau melihat fundamental ekonomi Indonesia saat ini, saya melihat masih cukup baik. Defisit anggaran kita masih sekitar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan itu masih tergolong aman,” ujar Habib Idrus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (9/6/2026).
Meski demikian, ia mengakui pelemahan rupiah dan penurunan IHSG perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Menurut dia, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat memengaruhi kepercayaan pasar dan aktivitas ekonomi nasional.
Habib Idrus mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilihat hanya dari satu indikator semata. Selain kondisi pasar modal dan nilai tukar, pemerintah juga perlu memperhatikan permintaan terhadap rupiah di pasar internasional serta minat investor terhadap instrumen investasi di Indonesia.
“Kita tidak bisa melihat pelemahan rupiah hanya dari sisi IHSG atau PDB saja. Permintaan rupiah di pasar internasional juga harus menjadi perhatian, begitu juga dengan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” katanya.
Ia menilai meningkatnya ketergantungan terhadap impor dan penggunaan dolar AS dalam transaksi ekonomi perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Jangan sampai impor kita semakin tinggi, penggunaan dolar semakin besar, sementara kepercayaan publik terhadap rupiah justru menurun. Itu yang tidak kita harapkan,” ujar Habib Idrus.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang menggelar rapat koordinasi bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, DPR RI, serta kementerian terkait untuk membahas perkembangan ekonomi nasional.
Menurut dia, langkah tersebut menunjukkan adanya keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.
“Saya mengapresiasi pemerintah, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan seluruh pihak yang terlibat karena memiliki komitmen untuk mencari solusi terhadap kondisi yang sedang terjadi. Langkah koordinasi seperti ini penting agar situasi dapat segera membaik,” katanya.
Selain itu, Habib Idrus juga menyoroti pentingnya menjaga daya beli masyarakat di tengah berbagai dinamika ekonomi global. Ia menilai daya beli masyarakat Indonesia sejauh ini masih cukup baik meskipun mengalami penyesuaian setelah periode hari besar keagamaan dan libur panjang.
Menurut dia, pemerintah perlu terus memastikan kebijakan ekonomi yang diambil mampu menjaga stabilitas harga, memperkuat konsumsi domestik, dan meningkatkan optimisme pelaku usaha.
“Kita semua berharap kondisi ini bisa segera membaik. Yang terpenting adalah menjaga kepercayaan masyarakat dan investor bahwa ekonomi Indonesia tetap memiliki fundamental yang kuat untuk tumbuh,” ujar Habib Idrus.